MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL BENTUK GEOMETRI ANAK MELALUI PERMAINAN BALOK PADA TAMAN KANAK-KANAK

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Perkembangan dan pertumbuhan pada anak harus distimulasi dengan baik, agar tugas perkembangannya dapat berkembang secara optimal. Salah satu tugas perkembangan yang harus distimulasi adalah perkembangan kognitif dengan mengenalkan benda-benda yang ada di sekitar anak. Dalam pertumbuhannya, anak-anak tidak dapat dipisahkan dari benda-benda yang ada di sekitarnya. Sejak kecil mereka sudah mengenal benda-benda terdekatnya yang bentuk bendanya sama dengan bentuk geometri, misalnya koin, lemari, meja, buku, bola, atau benda lainnya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari dan keperluan bermain (Latif, dkk, 2013: 3). 
Mengenalkan bentuk geometri pada anak usia dini adalah kemampuan anak mengenal, menunjuk, menyebutkan serta mengumpulkan benda-benda di sekitar berdasarkan bentuk geometri. Mengenalkan bentuk-bentuk geometri pada anak usia dini dimulai dari membangun konsep geometri yaitu dengan mengidentifikasi iri-ciri bentuk geometri. Sebelum mengidentifikasi bentuk-bentuk geometri, dalam perkembangan kognitif anak menurut teori Bloom (Latif, dkk, 2013: 8) ada enam jenjang roses dalam berpikir, di antaranya adalah mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi. Tujuan yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini


adalah pada jenjang kemampuan anak mengetahui, mengenal, dan menerapkan. Menurut Triharso (2013:50) hal tersebut atas pertimbangan bahwa kemampuan kognitif anak mempunyai tahap yang harus diperhatikan, sesuai dengan perkembangan anak, dan tidak semua jenjang proses kemampuan berpikir kognitif dapat diukur, sehingga dalam memberikan pemahaman kepada anak menyesuaikan pemahaman dan kemampuan anak tersebut.
Terdapat lima tahap belajar geometri pada anak, di antaranya adalah tahap pengenalan, analisis, pengurutan, deduksi, dan akurasi. Belajar mengenal bentuk geometri membantu anak untuk memahami, menggambarkan, dan mendeskripsi benda yang ada di sekitarnya. Dalam mengenal bentuk geometri, secara tidak langsung anak dapat mengenal dan berpikir matematis. Berpikir logis merupakan kemampuan berpikir secara rasional.
Proses yang digunakan dalam kecerdasan matematis-logis ini antara lain klasifikasi, pengambilan kesimpulan dan perhitungan. Dalam hal ini seorang anak dikatakan mampu berpikir logis dapat dilihat saat anak mampu memecahkan persoalan sederhana, berhitung, membedakan panjang atau pendek, besar atau kecil, panjang atau tinggi.
Triharso (2013: 46) menyatakan bahwa kemampuan dalam mengenal bentuk geometri pada anak selalu berkaitan dengan pembelajaran matematika. Matematika di PAUD adalah kegiatan belajar tentang konsep matematika melalui aktivitas bermain dalam kehidupan sehari-hari dan bersifat ilmiah. Bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain mempunyai kesamaan dan perbedaan. Keduanya sama-sama melakukan kegiatan bermain dan belajar, hanya penekanannya yang berbeda. Jika belajar sambil bermain lebih menekankan pada pelajarannya, maka bermain sambil elajar lebih menekankan pada aktivitas bermain dan jenis permainannya.
Berdasarkan hasil observasi pada pelaksanaan Pratindakan yang dilaksanakan di TK Negeri Pembina Kabupaten Jeneponto dapat diketahui bahwa kemampuan mengenal bentuk geometri masih rendah. Kemampuan anak dalam mengetahui bentuk-bentuk geometri melalui tes lisan persentase yang didapat sebesar 41,11% dengan kriteria cukup, selain itu kemampuan memahami bentuk-bentuk geometri melalui LKA dan tes lisan persentase yang didapat adalah 30% dengan kriteria kurang, sedangkan pada kemampuan menerapkan bentuk geometri dalam kehidupan sehari-hari melalui lembar observasi check list persentase yang didapat sebesar 50,62% dengan kriteria cukup.
Rendahnya kemampuan mengenal bentuk geometri pada anak Kelompok B di TK Negeri Pembina Kabupaten Jeneponto disebabkan oleh beberapa penyebab yaitu, penggunaan media pembelajaran yang digunakan terbatas, guru hanya mengenalkan dua macam bentuk geometri saja yaitu bentuk segi empat dan lingkaran. Selain itu, guru hanya menggunakan media papan tulis dan gambar macam-macam bentuk geometri, akibatnya kemampuan anak dalam mengenal bentuk-bentuk geometri belum terkuasai dengan baik. Anak-anak masih kebingungan saat menyebutkan macam-macam bentuk geometri yaitu bentuk segi empat, segitiga, dan lingkaran. Penyajian dalam metode pembelajaran yang digunakan adalah ceramah, guru hanya bercerita di depan menerangkan gambar bentuk gemetri akibatnya saat kegiatan belajar mengajar berlangsung kurang kondusif, banyak anak yang bercerita dengan teman, dan ada yang bermain sendiri, akibatnya proses kegiatan belajar mengajar kurang maksimal.
Kegiatan pengenalan bentuk-bentuk geometri dengan permainan tidak pernah dilakukan. Selain itu guru hanya mengulang-ulang kegiatan pembelajarannya dengan mengerjakan LKA tanpa diselingi dengan kegiatan bermain. Kondisi seperti inilah yang membuat anak kurang antusias saat melakukan kegiatan pembelajaran.
Media pembelajaran pada tingkat TK sangat diperlukan saat mengajar, karena dunia anak merupakan dunia bermain, maka dari itu pembelajaran yang ada di TK seharusnya diarahkan dengan cara bermain sambil belajar yang dikemas dengan menarik. Dalam mengembangkan kemampuan mengenalkan bentuk geometri pada anak-anak dapat dilakukan dengan berbagai hal, salah satunya dengan menggunakan media bermain dakon geometri untuk mengenalkan berbagai macam miniatur geometri. Balok adalah salah satu bentuk bangun ruang yang dapat digunakan dan dimainkan guna mnegenalkan bentuk-bentuk banguan ruang dalam materi geometri.
Melalui permainan balok, siswa dapat diberikan menstimulasi pengenalan bentuk geometri pada anak usia dini. Melalui kegiatan bermain balok geometri anak dapat bermain sambil belajar mengenal bentuk-bentuk geometri yaitu segitiga, segi empat, dan lingkaran secara langsung yang dimulai pada jenjang mengetahui, memahami, dan menerapkan pada kegiatan sehari-hari.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengambil judul “Meningkatkan Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri Anak Melalui Permainan Balok pada TK Negeri Pembina Kabupaten Jeneponto”. Dengan bermain dakon geometri dapat melatih kemampuan anak dalam mengenal bentukbentuk geometri. Kemampuan kognitif  dalam mengenal bentuk geometri pada anak Kelompok B yang ada sekarang ini kurang terasah, ini terlihat saat anak mengamati bentuk rumah, bentuk roda motor dan bentuk buku. Oleh sebab itu peneliti menggunakan dakon geometri sebagai media pembelajaran yang bias digunakan sambil bermain untuk mengasah kemampuan dalam mengenal bentuk-bentuk geometri.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka rumusan masalah adalah “Bagaimanakah meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri anak melalui permainan balok pada TK Negeri Pembina Kabupaten Jeneponto?”

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskrepsikan efektifitas penerapan metode bermain balok dalam meningkatkan kemampuan anak didik mengenal bentuk geometri anak pada TK Negeri Pembina Kabupaten Jeneponto.

D. Manfaat Penelitian

1.  Manfaat Teoretis
a.  Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan khususnya kajian mengenai meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri pada anak.
b.  Dapat menambah referensi yang dapat dijadikan titik tolak studi lebih lanjut bagi mereka yang tertarik terhadap masalah perkembangan kognitif anak usia dini. 
2.  Manfaat Praktis
a.  Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap pemerintah khususnya dinas pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Jeneponto sebagai pihak penyelenggaran program pendidikan bagi anak usia dini.
b.  Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan atau informasi tentang penyusunan kebijakan pada bidang-bidang pendidikan.





BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

A.  Tinjauan Pustaka

1.  Pengertian Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri Anak Usia Dini


Lestari (2011: 4) menjelaskan bahwa mengenal bentuk geometri pada anak usia dini adalah kemampuan anak mengenal, menunjuk, menyebutkan serta mengumpulkan benda-benda di sekitar berdasarkan bentuk geometri. Pendapat lain yang diungkapkan oleh Triharso (2013: 50) menyatakan bahwa dalam membangun konsep geometri pada anak dimulai dari mengidentifikasi bentuk-bentuk, menyelidiki bangunan dan memisahkan gambargambar biasa seperti, segi empat, lingkaran, dan segitiga. Belajar konsep letak, seperti di bawah, di atas, kiri, kanan, meletakkan dasar awal memahami geometri.
Tarigan (2006: 32) menjelaskan bahwa belajar geometri adalah berpikir matematis, yaitu meletakkan struktur hirarki dari konsep-konsep lebih tinggi yang terbentuk berdasarkan apa yang telah terbentuk sebelumnya, sehingga dalam belajar geometri seseorang harus mampu menciptakan kembali semua konsep yang ada dalam pikirannya. Mengenalkan berbagai macam bentukgeometri pada anak usia dini dapat dilakukan dengan cara mengajak anak bermain sambil mengamati berbagai benda di sekelilingnya.
Anak akan belajar  bahwa  benda yang satu mempunyai bentuk
yang sama dengan benda yang lainnya seperti ketika mengamati bentuk buku mempunyai bentuk yang sama dengan segi empat atau persegi.
Teori belajar dalam pembelajaran geometri yang dapat mengembangkan tahap mental anak dapat ditinjau dari tiga unsur di antaranya adalah waktu, materi pengajaran, dan metode pengajaran yang diterapkan.Apabila ketiga unsur tersebut dapat dilaksanakan dengan baik maka dapat meningkatkan kemampuan berpikir yang lebih tinggi pada anak dan mampu berpikir secara rasional. Salah satu dari teori yang menguatkan pernyataan tersebut adalah teori pembelajaran yang dikemukakan oleh Hiele (Tarigan, 2006: 62) menyatakan bahwa terdapat lima tahap belajar geometri pada anak, di antaranya adalah:
a.  Tahap Pengenalan.
Dalam tahap ini anak mulai belajar mengenal suatu bentuk geometri secara keseluruhan, namun belum mengetahui adanya sifat-sifat dari bentuk geometri yang dilihatnya.
b.  Tahap Analisis.
Pada tahap ini anak sudah mulai mengenal sifat-sifat yang dimiliki benda geometri yang diamati. Anak sudah mampu menyebutkan aturan yang terdapat pada benda geometri tersebut.
c.   Tahap Pengurutan.
Pada tahap ini anak sudah mampu melakukan penarikan kesimpulan, berpikir deduktif, namun kemampuan ini belum dapat berkembang secara penuh.
d.  Tahap Deduksi.
Tahap  ini anak sudah mampu menarik kesimpulan secara  deduktif yaitu penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum menuju hal-hal yang bersifat khusus.
e.  Tahap Akurasi.
Dalam tahap ini anak mulai menyadari betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Anak belajar bentukbentuk geometri anak harus belajar dari benda-benda konkret.
Teori belajar yang dapat diterapkan pendidik dalam dunia pendidikan salah satunya adalah teori belajar Bloom yang memfokuskan pada teori aplikatif psikologi belajar kognitif. Menurut Bloom (Turmuzi, 2013:12), ada beberapa aspek yang berkaitan dengan perilaku anak dalam kehidupan sosialnya, salah satunya adalah aspek kognitif. Aspek kognitif merupakan aspek-aspek intelektual atau berpikir yang terdiri dari:
a.  Pengetahuan (knowledge)
b.  Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek, fakta, prinsip dasar, ide prosedur atau gagasan, konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori, atau kesimpulan. 
c.   Pemahaman (comprehension)
Pemahaman atau mengerti merupakan kemampuan untuk membaca
serta memahami suatu gambaran yang telah diketahuinya. Setelah mengetahui definisi, informasi, peristiwa, fakta kemudian disusun kembali ke dalam struktur kognitif yang ada. Dari hasil proses mengetahui tersebut diakomodasikan dan akan berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada, sehingga membentuk struktur kognitif yang baru.
d.  Penerapan (application)
Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh, menggunakan, mengklasifikasikan, memanfaatkan, menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. 
e.  Penguraian (analysis)
Menganalisis informasi dengan menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar bagian tersebut, melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi solusi dari suatu pernyataan.
f.    Memadukan (synthesis)
Menggabungkan, merangkai atau menyatukan berbagai informasi menjadi satu kesimpulan yang baru.
g.  Penilaian (evaluation)
Mempertimbangkan, menilai dan mengambil keputusan benar-salah, baik-buruk, berdasarkan gagasan  baik kualitatif maupun kuantitatif.
Aspek-aspek kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri dimulai dari anak mengetahui bentuk-bentuk geometri dan namanya yang meliputi kemampuan mengucapkan bentuk geometri dan memberi nama bentuk geometri, memahami bentuk-bentuk geometri yang meliputi kemampuan memberikan contoh bentuk suatu benda yang sama dengan bentuk geometri dan kemampuan mendeskripsikan masing-masing bentuk geometri, dan menerapkan bentuk geometri dalam kehidupan sehari-hari yang meliputi kemampuan menggambar bentuk geometri, menyusun beberapa bentuk geometri menjadi suatu benda, dan bercerita mengenai benda yang dibuatnya dari beberapa susunan bentuk geometri.

2.  Langkah-Langkah Permainan Balok

Makplus (2015: 1) Balok dalam bentuk geometri sebetulnya tidak dapat dipisahkan, karena dalam bentuk balok sudah pasti ada bentuk-bentuk geometri, bedanya, balok memiliki ruang sedangkan bentuk geometri tidak. Oleh karena itu, memperkenalkan bentuk-bentuk geometri dengan menggunakan media balok tidaklah sulit. Karena dalam satu kegiatan sudah mencakup keduanya. Adapun langkah-langkah permainannya yaitu:
1.  Guru menjelaskan bentuk dan warna balok
2.  Guru juga menanyakan jumlah, serta ukuran balok untuk selingan
3.  Guru menanyakan benda yang bentuknya seperti balok, ini untuk mengeluarkan imajinasi anak dengan benda sebenarnya
4.  Guru memperlihatkan jenis-jenis balok yang sudah disusun dengan berbagai model dan permainan
5.  Guru juga menjelaskan persaamaannya dengan bentuk geometri
6.  Guru menanyakan kesenangan bentuk balok yang sudah disusun menjadi bentuk mainan
7.  Guru menjelaskan cara menggunakannya
8.  Guru menyuruh anak untuk memainkan balok dengan bentuk geometri

3.  Permainan Balok bagi Anak Usia Dini

Bermain adalah suatu kegiatan atau tingkah  laku  yang  dilakukan  anak  secara sendirian  atau  berkelompok  dengan  menggunakan  alat  untuk mencapai tujuan tertentu. Bermain ada yang dapat dilakukan secara sendirian dan ada pula yang dilakukan secara berkelompok. Setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Bermain dilakukan secara sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar.
Bermain merupakan jalan bagi anak dari belajar secara informal menjadi formal. Sebagai contoh, awalnya  anak  bermain  dengan  balok-balok, anak mempelajari berbagai bentuk geometri, mengetahui namanya, mengenali bentuknya, belajar berkonsentrasi dan menekuni tugasnya. Pengenalan terhadap bentuk ini menjadi dasar bagi anak untuk pengenalan terhadap huruf dan angka (Tedjasaputra, 2001:23). Adapun tahap-Tahap Belajar Geometri diuraikan sebagai berikut:
a.  Tahap pertama anak belajar geometri adalah topologis. Hiele (Ruseffendi, 2009: 61-63) berpendapat bahwa ada lima tahapan anak belajar geometri, yakni mereka belum mengenal jarak, kelulusan dan yang lainnya, karena itu mulai belajar geometri supaya tidak mulai dengan lurus-lurus, tetapi dengan lengkung, misalnya lengkungan tertutup, lengkungan terbuka daerah lengkungan, lengkungan sederhana dan lainnya. 
b.  Tahap Pengenalan. Pada tahap ini siswa sudah mengenal bentuk- bentuk geometri, seperti segitiga, kubus, bola, lingkaran, dan lian-lain, tetapi ia belum memehami sifat- sifatnya.
c.   Tahap Analisis. Pada tahap ini, siswa sudah dapat memahami sifat- sifat konsep atau bentuk geometri. Misalnya, siswa mengetahui dan mengenal bahwa sisi panjang yang berhadapan itu sama panjang, bahwa panjang kedua diagonalnya sama panjang dan memotong satu sama lain sama panjang dan lain- lain.
d.  Tahap Pengurutan. Pada tahap ini, siswa sudah dapat mengenal bentuk- bentuk geometri dan memahami sifat-sifat dan ia sudah dapat mengurutkan bentuk- bentuk geometri yang satu sama lain berhubungan.
e.  Tahap Dedukasi. Pada tahap ini, berpikir deduktifnya sudah mulai tumbuh, tetapi belum berkembang dengan baik. Matematika adalah ilmu deduktif, karena pengambilan kesimpulan, pembuktian dalil yang harus dilakukan secara deduktif. Pada tahap ini, siswa sudah dapat memahami pentingnya pengambilan kesimpulan secara deduktif itu, karena misalnya ia dapat melihat bahwa kesimpulan yang diambil secara induktif itu mungkin bisa keliru.  Jadi tahap dedukasi sangat penting bagi anak-anak untuk perkembangan kognitifnya.
f.    Tahap Kakuratan (Ringor)
Pada tahap ini, siswa dapat memahami bahwa adanya ketepatan (presisi) dari yang mendasar itu penting. Hiele (Ruseffendi, 2009: 163- 164) berpendapat mengenai pengajaran geometri ada tiga dalil, yaitu kombinasi yang baik antar waktu, materi pelajaran, dan metode mengajar yang dipergunakan untuk tahap tertentu dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa kepada tahap yang lebih tinggi.
Dua orang yang tahap berpikirnya berbeda dan bertukaran pikiran tidak akan mengerti. Kegiatan belajar siswa harus memahami dengan pengertian untuk memperluas pengalaman dan berpikir siswa, untuk meningkatkan berpikir ke yang lebih baik.

4.  Indikator Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri

Permedikbud 137 dan 146 tahun 2014 disebutkan kompetensi dasar dan indikator perkembangan anak yang berkaitan dengan mengenal bentuk geometri sebagai berikut: mengelompokkan bentuk-bentuk geometri (lingkaran, segitiga, segiempat, dll), membedakan benda-benda yang berbentuk geometri, membedakan ciri-ciri bentuk geometri, menyebutkan benda-benda yang berbentuk geometri. Dengan berdasar kompetensi dasar di atas maka indikator yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
a.  Anak mampu mengenal bentuk-bentuk geometri
b.  Anak mampu mengelompokkan bentuk-bentuk geometri
c.   Anak mampu membedakan ciri-ciri bentuk geometri

B. Kerangka Pikir Penelitian

Anak-anak tidak dapat dipisahkan dari benda-benda yang ada di sekitarnya. Sejak kecil mereka sudah mengenal benda-benda terdekatnya, misalnya piring, lemari, meja, buku, bola, atau benda lainnya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhannya dalam kehidupan sehari-hari dan keperluanbermain. Belajar mengenal bentuk-bentuk geometri membantu anak untuk memahami, menggambarkan, dan mendeskripsikan benda-benda yang ada di sekitarnya.
Kemampuan dalam mengenal bentuk-bentuk geometri pada anak usia dini merupakan kemampuan yang sangat diperlukan anak TK sebagai dasar kemampuan dalam mengenal bentuk-bentuk geometri, mengklasifikasikan bentuk berdasarkan bentuk, membedakan ukuran, berpikir rasional dan dapat mengetahui konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan mengenal bentuk geometri mencakup kemampuan mengetahui, memahami dan kemampuan menerapkan. 
Mengenalkan bentuk-bentuk geometri pada anak usia dini dimulai dari membangun konsep geometri yaitu dengan mengidentifikasi ciri-ciri bentuk geometri (Tedjasaputra, 2001:27) Mengenalkan bentuk geometri pada anak usia dini dimulai dari membangun konsep geometri yaitu dengan mengidentifikasi ciri-ciri bentuk geometri. Sebelum mengidentifikasi bentuk-bentuk geometri, dalam perkembangan kognitif anak menurut teori Bloom ada enam jenjang proses dalam berpikir, di antaranya adalah mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi.
Pengenalan bentuk geometri pada anak usia TK dapat dikembangkan melalui pengenalan anak terhadap berbagai kemampuan spasialnya yaitu kemampuan yang berkaitan dengan bentuk benda dan tempat di mana benda itu berada, seperti kertas itu bentuknya segi empat. Faktor yang mempengaruhi kemampuan mengenal bentuk geometri pada anak adalah cara berpikir simbolis, intuitif serta kemampuan spasialnya untuk dapat mengetahui, memahami, dan menerapkan konsep bentuk geometri dalam kehidupan sehari-hari (Tedjasaputra, 2001:31)
Media permainan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dakon geometri.Permainan ini sangat membantu anak untuk mengenalkan bentuk bentuk geometri. Balok geometri dihiasi yaitu memberikan tutup pada lubang papan dakon yang berbentuk bangun datar yaitu segitiga, segi empat, dan lingkaran. Begitu juga dengan biji-bijiannya.  Adapun kerangka pikir penelitian diuraikan sebagai berikut:



Kemampuan Anak Mengenal Bentuk Geometri Belum Berkembang
Aspek Guru
Guru cenderung mengulang-ulang kegiatan pembelajarannya dengan mengerjakan LKA tanpa diselingi dengan kegiatan bermain

Aspek Anak
Anak belum dapat mengenal bentuk geometri

Langkah-langkah
1.   Guru menjelaskan bentuk dan warna balok
2.   Guru juga menanyakan jumlah, serta ukuran balok untuk selingan
3.   Guru menanyakan benda yang bentuknya seperti balok, ini untuk mengeluarkan imajinasi anak dengan benda sebenarnya
4.   Guru memperlihatkan jenis-jenis balok yang sudah disusun dengan berbagai model dan permainan
5.   Guru juga menjelaskan persaamaannya dengan bentuk geometri
6.   Guru menanyakan kesenangan bentuk balok yang sudah disusun menjadi bentuk mainan
7.   Guru menjelaskan cara menggunakannya
8.   Guru menyuruh anak untuk memainkan balok dengan bentuk geometri


Kemampuan anak meningkat

 





















Gambar 1. Bagan Kerangka Pikir

C. Hipotesis Penelitian


Berdasarkan kajian pustaka yang telah dikemukakan di atas, maka diajukan hipotesis sebagai berikut: “Jika metode bermain balok geometri diterapkan maka kemampuan mengenal geometri siswa TK Negeri Pembina Kabupaten Jeneponto meningkat”.

Komentar

Posting Komentar